Buku baru »

buku singgasana Allah di atas Air

Singgasana Allah di Atas Air

31/12/2015 – 1:43 PM |

Para malaikat pembawa ‘Arsy (Hamalatul ‘Arsy) merupakan malaikat yang paling dekat kedudukannya dengan Allah I. Selain sangat patuh, ukuran mereka pun sangat besar. Dari Jabir bin Abdullah t bahwa Rasulullah r bersabda, “Aku diizinkan oleh …

Baca keseluruhan artikel »
Best Seller


BUKU-BUKU BEST SELLER

Aqidah
Doa
Buku pilihan
Muammalah

Khutbah »

Keadilan Melawan Kedzaliman

28/08/2015 – 3:53 AM |
khutbah jumat sepanjang masa slider width 978px

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Shaad ayat 26 tersebut di atas berarti:

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka Bumi maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad [38]: 26)

Kata “dhalim,” atau “lalim” adalah perilaku kejam tanpa rasa kemanusiaan. Sederetan dengan perilaku demikian timbullah kata “kesewenang-wenangan,” yaitu perilaku tanpa perhitungan melainkan demi memuaskan nafsunya sendiri.

Karena adanya kezaliman yang berujung kepada kesewenang-wenangan dan penindasan maka timbullah perlawanan untuk mengembalikan rasa kemanusiaan pada tempatnya yang mulia. Perlawanan terhadap kezaliman itu biasa kita sebut dengan “keadilan.”

Keadilan menjadi pondasi kuat kepemimpinan, sedangkan bila kepemimpinan berpondasikan kezaliman maka akan menimbulkan protes dan perlawanan rakyat yang dipimpinnya. Coba kita kembalikan ingatan kita pada sejarah masa lalu para nabi untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Bukankah kezaliman Namruz dihancurkan Ibrahim? Bukankah Zalut dihancurkan Daud? Bukankah Fir’aun dihancurkan Musa? Nabi-nabi kaum tertindas (mustadafin) selalu melakukan protes dan perlawanan bahkan sampai penggulingan para pemimpin yang menindas (mustadifin) demi terciptanya rasa keadilan dan kedamaian.

Sekalipun kezaliman berakhir dengan kekacauan, sebaliknya keadilan berakhir dengan kedamaian yang sesungguhnya dambaan setiap manusia karena sesuai dengan rasa kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, masih banyak pemimpin dunia yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya. Selalu saja lebih mementingkan ketidakadilan demi pemenuhan hawa nafsu dirinya dari pada keadilan demi pemenuhan kemanusiaan. Bila demikian, ada benarnya apa yang dikatakan Moore (orang filusufis):

“Kesepakatan-kesepakatan tentang apa yang disebut ketidakadilan lebih mudah daripada tentang keadilan.” 

Dengan kata lain, kebaikan dan kebenaran itu sulit lakukan dan oleh karena itu pula, Allah memberikan dorongan kepada siapapun yang melakukan kebaikan akan diberikan pahala yang berlipat ganda.

“Barang siapa yang mendatangkan satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat (kebaikan) dan barang siapa yang mendatangkan keburukan maka baginya tidak mendapatkan pahala kecuali yang semisalnya…”

Kezaliman itu sesungguhnya menganiaya diri sendiri dan melanggar hukum moral kemanusiaan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 54.

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu) maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 54)

Demikian, Musa meninggalkan kaumnya karena Samiri menyelewengkan tauhid kepada syirik dengan memerintahkan pengikutnya menyembah lembu, sedangkan menyembah lembu berarti penghinaan terhadap akal manusia. Bukankah ini perilaku zalim yang senyata-nyatanya?

Betapapun berat menggenggam keadilan mestilah keadilan diperjuangkan dan dipertahankan karena keadilan yang mendekatkan kepada takwa itu sesungguhnya pondasi kita untuk melestarikan seluruh sektor  kemanusiaan itu sendiri.

diambil dari buku Khutbah Jumat Sepanjang Masa

khutbah jumat sepanjang masa slider width 978px